Selasa, 14 Desember 2010

Hutan, Hembusan Nafas Alam


Bisakah kalian bayangkan, apabila di dunia tak ada hutan ?

Bumi akan kehilangan penghasil oksigen, hewan - hewan akan kehilangan tempat tinggalnya, sumber daya alam berkurang dan masih banyak lagi. Tidak hanya hewan dan tumbuhan, manusia juga pasti akan merasakan dampaknya baik cepat ataupun lambat. Apabila tak ada hutan, maka hewan pemakan tumbuhan ( herbivora ) akan punah, dan hewan pemakan daging ( karnivora ) yang kehilangan makanan utamanya juga akan punah, begitu juga seterusnya. Tanpa hewan dan tumbuhan, manusia tidak akan dapat melangsungkan kehidupannya. Oleh karena itu, kita sebagai manusia sudah sepatutnya merawat dan melestarikan hutan.

Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Manfaat hutan itu sendiri tentunya dapat dirasakan berdasarkan jenis atau macamnya. Seperti hutan produksi, yang sengaja dibuat untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi. Kemudian ada hutan lindung, yaitu adalah kawasan

hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau kelompok masyarakat tertentu untuk dilindungi agar fungsi - fungsi ekologisnya tetap dapat berjalan dan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat di sekitarnya. Namun masyarakat sering salah tanggap mengenai kawasan lindung ( konservasi ) dengan hutan lindung. Kawasan konservasi khususnya ditujukan pada wilayah - wilayah yang didedikasikan untuk melindungi kekayaan hayati seperti halnya kawasan - kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Banyak kerusakan hutan yang terjadi akibat ulah orang - orang yang tidak bertanggung jawab. Salah satunya adalah deforestasi. Deforestasi adalah suatu kondisi dimana saat tingkat luas area hutan menunjukkan penurunan secara kuantitas dan kualitas. Adapun usaha - usaha yang dapat kita lakukan untuk melestarikan hutan yaitu dengan mencegah sistem ladang berpindah yang sering dilakukan untuk kepentingan pribadi. Tak lupa untuk selalu waspada dan hati - hati terhadap api. Reboisasi lahan gundul dan metode tebang pilih adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh para pelilik sertifikan HPH atau Hak Pengelolaan Hutan. Para perusahaan penebang pohon harus memilih-milih pohon mana yang sudah cukup umur dan ukuran untuk ditebang. Setelah menebang satu pohon sebaiknya diikuti dengan penanaman kembali beberapa bibit pohon untuk menggantikan pohon yang ditebang tersebut.











Senin, 13 Desember 2010

Gelombang Air Mematikan - Tsunami

Begitulah kira-kira pandangan 'Hokusai' mengenai Tsunami. Seorang pelukis Jepang yang bernama lengkap Katsushika Hokusai ini adalah seorang seniman, pelukis, pemahat dan juga seniman grafis yang cukup terkenal dengan karya - karyanya. Salah satunya adalah lukisan di atas, lukisan Hokusai yang sangat terkenal ini biasa dipakai sebagai perumpaan / pelukisan Tsunami. Sebenarnya, apa yang disebut sebagai Tsunami ? Gelombang air yang besarkah ? Hantaman airkah ? Ya, mungkin secara umum pemikiran tersebut dapat dikatakan benar. 
 
Tsunami dalam bahasa Jepang terdiri atas dua kata, yaitu 'Tsu' yang artinya pelabuhan dan 'Nami' yang artinya gelombang. Jadi dapat diartikan sebagai ombak besar di pelabuhan. Tsunami adalah peristiwa perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba - tiba. Perubahan permukaan laut tersebut dapat disebabkan oleh gempa bumi di dasar laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut. Entah itu menghasilkan gelombang besar ataupun kecil, hal tersebut tetap disebut Tsunami. Hampir di seluruh dunia, tiap harinya terjadi Tsunami. Hanya saja kita tidak menyadarinya. Salah satu sebabnya adalah gelombang yang dihasilkan ada yang besar dan kecil dan juga jarak gelombang tersebut dari wilayah berpenduduk.

Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Tsunami yang mencapai ketinggian lebih dari 100 meter disebut dengan Megatsunami. Megatsunami terakhir yang terjadi di wilayah berpenduduk diperkirakan terjadi sekitar 4000 tahun yang lalu.
 
Tsunami terjadi begitu cepat, dalam hitungan detik gelombang air telah sampai ke daratan. Akan lebih berbahaya jika terjadi di wilayah berpenduduk. Tentunya ini berdampak sangat besar bagi kehidupan kita. Seperti yang terjadi baru - baru ini di Mentawai, 25 Oktober 2010. Selain memakan korban, peristiwa ini juga mengakibatkan kerusakan pada rumah - rumah penduduk dan tidak sedikit yang kehilangan harta benda. 
 
Untuk itu, ahli tsunami dan juga peneliti yang berasal dari Jepang 'Dr.Sakata' dari The National Research Institute for Earth Science and Disaster Prevention ( NIED ),telah menciptakan sebuah metode untuk mencegah tsunami dengan menggunakan laser. Metode ini sangat sederhana dan sangat sensitif sebagai sensor Tsunami maupun sensor tekanan. Disamping itu alat ini terbebas dari gangguan bunyi karena yang terkirim ke sensor yang berada jauh dari pantai adalah cahaya laser melalui fiber optik sedang seluruh perangkat elektronik diletakkan di darat.